Friday, October 14, 2011

PUNCAK MALAM ITU


Puncak malam itu. Udara menusuk dengan kejamnya lantaran kami makin menuju ke atas. Kabut makin menebal, menutup pandangan. seakan menolak kedatangan kami atau malah mau memberikan kejutan saat kami sudah bisa terbiasa melihat dalam kabut?

Kami memutuskan menepi di sebuah warung jagung bakar yang terlihat cukup luas dan nyaman untuk disinggahi. Beberapa warung disebelah kami dipenuh oleh rombongan para pe-touring.

Ditemani secangkir kopi susu panas dan jagung bakar yang masih menggepulkan asapnya, menunjukkan baru saja diangkatnya dari pembakaran. Kepulan asap rokok dari seorang teman disebrang. Kabut dan udara dingin yang makin menusuk ke dalam pori-pori terdalam. Melanjutkan pembicaraan kami mengenai ke-galau-an masing-masing. Sembari sesekali mengamati jalan yang banyak dilalui para rombongan motor-motor yang  berbeda dan terlihat sengaja melakukan perjalanan panjang ini malam itu.

“rame juga yah puncak malem-malem gini. Banyak rombongan-rombongan pe-touring. Salut2”
“iya. Keren deh mereka. jagoan.”
“hmmm...”
“jadi bagaimana?”
“Apanya yang bagaimana?”
“gatau deh.. apa mungkin bisa balik lagi?”
“Menurut lo?”
“hmmm... bisa kok.. asal tetep usaha. Haha klise banget..”
“hahahaha. Tai abis lo”
“jagung bakar. Kopi susu. Kabut. Perfect.”
“yakin perfect? ga ada yang kurang?”
“siaaal!. Gw udah tau lo bakal ngomong itu. Hmm kurang sih..”
“kurang apaaa hayooo???”
“kurang seseorang untuk dipeluk saat dingin gini. Momentnya udah pas padahal.. halahh.. galau kan gw.tai lo emang ”
“hahhaa. Sama.”
“roti bakar. Bandrek. Flava.. Cuma ganjal 1 hal” 
“apaan?”
“sama lo!”
“anjrit!”
 “harusnya situasi kayak gini bareng pacar. “
“anjing. Udah bagus gw temenin kesini lo. Babi. “
“hahha iye.iye.”

Tarikan dalam terlihat saat Ia mulai menaruh kreteknya ke ujung bibir dan mulai menariknya agak lama.
Tak lama kepulan asappun mulai terlihat keluar dari mulutnya. Teratur.

Kami pun melanjutkan chit chat kecil kami. Makin subuh dan makin tidak jelas. Tapi yang jelas pasti.

Jagung bakar. secangkir Kopi susu. Kabut. Kepulan asap. Dinginnya malam itu masih terasa kurang tanpa kau. Yang aku tidak dan belum tau siapa itu.

                                                                                                                                                                10/10/2011 

Tuesday, October 4, 2011

your pic

rambut tekulai lemas sebahu. mata menyipit tersenyum. cantik

tepat disebalahnya. kembaran perilakunya. kau si rambut hitam pekat. si alis tebal. dengan senyum tulus. bersanding.

pas. tak bercela

sepasang indera tertohok menikmati. 2 ujung bibir tertarik terkatup. tarikan nafas dalam bergetar. degup memacu tersayat. miris

Ia tau jawabannya. ia tau posisinya. kalah. inilah tempatnya.

Saturday, August 13, 2011

si penikmat cerita

dan aku disini, hanya bisa menikmati sisa kenangan yang ada.
menelan dalam-dalam pahit yang sudah menjadi takdir

kau. salah satu yang berpengaruh dalam tulisan ini. 
kau. yang tau bagaimana aku
kau. yang memberi sejuta sejuk dalam diri
kau. terlalu banyak yang dapat ku deskripsikan
itu semua hanya awal.
manis.
kamu. sosok yang mulai pudar
aku. sosok yang mulai gentar
kamu. bukanlah pemberi tujuan dan arah
aku. penghela napas panjang
kamu. si "pejuang" ???
aku. si egois
kamu. si rakus
kamu. si plin plan
kamu. sang penulis
aku. sang peran utama
kamu. penentu akhir cerita
aku. penerima dan si pasrah.

bodoh memang. lagi-lagi aku kalah. naif nampaknya bila hanya mengatakan semua ini sudahlah suratan takdir. 
kekecewaan batas tertinggi dikecap. tapi semua sudah terjadi. kau penentu akhir cerita ini. dan aku tetaplah hanya menjadi si penerima dan si pasrah. 

penulis hidup nikmat dan memiliki banyak kumpulan buku dan ceritanya. tentu tidak sulit baginya saat ini membuang 1 cerita dan menikmati ceritanya yang lama. atauu.. mulai menulis cerita baru.. :) 

cerita yang terlambat di post-kan

malam ini.. entah malam keberapa hal ini kembali di perdebatkan..

aku kembali merenungkan tulisan-tulisanmu di BlackBerry Messenger-ku

saat tak ada lagi jalan dan harapan, aku maish bertahan..
kadang aku merasa bodoh.. apa aku yang terlalu melambungkan mimpi.. atau memang semua hanyalah kesenangan sesaat

aku tau banyak hal tentang hal itu. kau pun begitu. mungkin bukan tentang itu. tetapi tentang aku.

aku kekal mencoba bertahan. namun akhirnya aku pula yang gentar.

pasrah.. kata yang tepatkah? atau lebih tepat "menyerah" ??

(awal bulan Juni)

Saturday, June 4, 2011

Wednesday, May 25, 2011

aku-kamu



Sekali lagi. 2 bola itu tajam menatap. aku terdiam. Ku balas tatap. Sekejap saja. Aku diam. Tersipu malu. Dia diam. Tersenyum manis.

“aku tak tahu sampai kapan”. “aku juga”. “entahlah”. “jalani saja”.

semua bergerak. Cepat. Menyangkal. Membungkam diri. Munafik. Sampai suatu titik.

“aku rasa”. “aku pun sama”. “aku tak tau”. “aku pun masih tak tau”

“aku belum siap”. “aku pun sama”. “jalani saja”. ”yaa, jalani saja”

Aku pilih manis. Dia pilih manis. Namun scene itu menipu. pahit.. 

“sakiiit”. “kenapa?”. “maaf..”. “aku bodoh”. “maaf..”. “sudahlah..”. 
“aku pergi”. “please,stay with me...”

Memahat kembali. Mencoba. Namun..

“aku takut”. “apa?”. “banyak hal”. “seperti?”. “seperti yang kau tahu apa yang aku takutkan”.
“aku binggung”. “aku juga”. “ini salahku”. “apa?”. “tak apa-apa”. “sudah lupakan”. “jalani saja”. “maaf...”


Saat rasional dan perasaan menjadi 1 dan tak ada yang mau mengalah.