Saturday, August 13, 2011

si penikmat cerita

dan aku disini, hanya bisa menikmati sisa kenangan yang ada.
menelan dalam-dalam pahit yang sudah menjadi takdir

kau. salah satu yang berpengaruh dalam tulisan ini. 
kau. yang tau bagaimana aku
kau. yang memberi sejuta sejuk dalam diri
kau. terlalu banyak yang dapat ku deskripsikan
itu semua hanya awal.
manis.
kamu. sosok yang mulai pudar
aku. sosok yang mulai gentar
kamu. bukanlah pemberi tujuan dan arah
aku. penghela napas panjang
kamu. si "pejuang" ???
aku. si egois
kamu. si rakus
kamu. si plin plan
kamu. sang penulis
aku. sang peran utama
kamu. penentu akhir cerita
aku. penerima dan si pasrah.

bodoh memang. lagi-lagi aku kalah. naif nampaknya bila hanya mengatakan semua ini sudahlah suratan takdir. 
kekecewaan batas tertinggi dikecap. tapi semua sudah terjadi. kau penentu akhir cerita ini. dan aku tetaplah hanya menjadi si penerima dan si pasrah. 

penulis hidup nikmat dan memiliki banyak kumpulan buku dan ceritanya. tentu tidak sulit baginya saat ini membuang 1 cerita dan menikmati ceritanya yang lama. atauu.. mulai menulis cerita baru.. :) 

cerita yang terlambat di post-kan

malam ini.. entah malam keberapa hal ini kembali di perdebatkan..

aku kembali merenungkan tulisan-tulisanmu di BlackBerry Messenger-ku

saat tak ada lagi jalan dan harapan, aku maish bertahan..
kadang aku merasa bodoh.. apa aku yang terlalu melambungkan mimpi.. atau memang semua hanyalah kesenangan sesaat

aku tau banyak hal tentang hal itu. kau pun begitu. mungkin bukan tentang itu. tetapi tentang aku.

aku kekal mencoba bertahan. namun akhirnya aku pula yang gentar.

pasrah.. kata yang tepatkah? atau lebih tepat "menyerah" ??

(awal bulan Juni)

Saturday, June 4, 2011

Wednesday, May 25, 2011

aku-kamu



Sekali lagi. 2 bola itu tajam menatap. aku terdiam. Ku balas tatap. Sekejap saja. Aku diam. Tersipu malu. Dia diam. Tersenyum manis.

“aku tak tahu sampai kapan”. “aku juga”. “entahlah”. “jalani saja”.

semua bergerak. Cepat. Menyangkal. Membungkam diri. Munafik. Sampai suatu titik.

“aku rasa”. “aku pun sama”. “aku tak tau”. “aku pun masih tak tau”

“aku belum siap”. “aku pun sama”. “jalani saja”. ”yaa, jalani saja”

Aku pilih manis. Dia pilih manis. Namun scene itu menipu. pahit.. 

“sakiiit”. “kenapa?”. “maaf..”. “aku bodoh”. “maaf..”. “sudahlah..”. 
“aku pergi”. “please,stay with me...”

Memahat kembali. Mencoba. Namun..

“aku takut”. “apa?”. “banyak hal”. “seperti?”. “seperti yang kau tahu apa yang aku takutkan”.
“aku binggung”. “aku juga”. “ini salahku”. “apa?”. “tak apa-apa”. “sudah lupakan”. “jalani saja”. “maaf...”


Saat rasional dan perasaan menjadi 1 dan tak ada yang mau mengalah.

Thursday, April 14, 2011

"Keadaan manusia yang tidak saling mencintai itu sebenarnya tidak ada."

mengutip dari artikel mengenai pementasan Teater Katak 21 Maret 2011 lalu yang ditulis oleh Lydia Natasha (jurnalistik'08), membuat saya sedikit berefleksi terhadap beberapa kalimat dibawah ini..




"Keadaan manusia yang tidak saling mencintai itu sebenarnya tidak ada."




"Kondisi tiadanya cinta tidak mungkin terjadi."




"Kalaupun “nampaknya” terjadi, itu semua hanya karena manusia lupa bagaimana caranya mencintai."




 "Manusia cenderung lebih mudah mematikan hati nuraninya, menutupnya dengan egoisme, 
keserakahan, dan kesombongan."




"Itulah cikal-bakal terjadinya permusuhan yang membuat manusia tidak dikuasai cinta, melainkan ego mereka sendiri."




"mencintai memang tidak mudah. Manusia pasti selalu dihadapkan dengan cobaan, dan terkadang 
manusia kalah dan salah memilih."




belum pernah saya mendengar kata-kata ini sebelumnya. cukup menempel di otak dan hati. :) 

Tuesday, April 12, 2011

denting itu lenyap
mata-mata tertombak tercucur
jari-jari mengais meminta


pemberi jalan seakan menghilang
menghilang.
entah kemana.
atau
diambil siapa?
entahlah.


dinding kemegahan menjulang tinggi.
seorang berkata
"aku tau cahayanya!"
seorang lain berkata,
"kita hanya dapat menatapnya tak bergerak"
"ya, aku tau"
"munafik!"


lunglai.
kembali mengais.
penjilat penikmat nirwana
aku ingin tau rasanya.